Review of Modern and Contemporary Art by Michele Dantini
Abstruse art through its brainchild way is an attempt to explore the essence and existence of humanityin the dimension of spirituality. Abstraction is able to present a deeper meaningful infinite because of theopen dialogue between artists - works - spiritual observers. This research was conducted to explore andexplore the transcendental and spirituality dimensions peculiarly in contemporary Indonesian abstractpainting as part of the expression and reflection of the search for the essence of the artist. In add-on,historical aspects and discourse dynamics will too be analyzed in order to obtain a comprehensiveunderstanding in understanding the evolution of abstract art in Indonesia. This study uses qualitativemethods past optimizing studies on written sources and literature relating to the study of contemporaryIndonesian abstract painting by farther analyzing the historical aspects and dynamics of discourse. Datawere analyzed using content analysis method. This report is expected to be a reference material for learningabstract art, artists, and art lovers.Keywords: spiritual, abstract painting, contemporary art, Indonesia
Content may be bailiwick to copyright.
Discover the world's enquiry
- 20+ one thousand thousand members
- 135+ meg publications
- 700k+ research projects
Volume xi No. 1 Juni 2019 1
Amir Gozali : Dimensi Spiritual Dalam Seni Lukis Abstrak Kontemporer Indonesia: Sejarah Dan Wacana
DIMENSI SPIRITUAL DALAM SENI LUKIS ABSTRAK KONTEMPORER INDONESIA:
SEJARAH DAN WACANA
Amir Gozali
Jurusan Seni Rupa Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain
Institut Seni Republic of indonesia (ISI) Surakarta
E-mail :gozali.amir88@gmail.com
Abstract
Abstract art through its abstraction mode is an attempt to explore the essence and existence of humanity
in the dimension of spirituality. Abstraction is able to present a deeper meaningful space because of the
open dialogue between artists - works - spiritual observers. This research was conducted to explore and
explore the transcendental and spirituality dimensions specially in contemporary Indonesian abstract
painting equally role of the expression and reection of the search for the essence of the artist. In improver,
historical aspects and discourse dynamics volition likewise be analyzed in order to obtain a comprehensive
understanding in understanding the development of abstract art in Indonesia. This report uses qualitative
methods by optimizing studies on written sources and literaturdue east relating to the study of contemporary
Indonesian abstract painting by further analyzing the historical aspects and dynamics of soapbox. Data
were analyzed using content analysis method. This study is expected to be a reference material for learning
abstract fine art, artists, and art lovers.
Keywords: spiritual, abstract painting, contemporary fine art, Indonesia
Pendahuluan
Dalam seni kontemporer, abstraksi hadir
dengan hibriditas citra dan representasi yang
dikombinasikan dengan fabric. Ungkapan
abstrak yang dipilih adalah langkah untuk masuk
kembali ke sisi personal, menggali makna melalui
penyederhanaan bentuk, memunculkan sensasi
mencipta untuk menghadirkan pengalaman
baru dalam melihat karya oleh para pengamat
seni. Dalam hal ini, abstraksi menjadi sarana
dimana seniman dapat mengungkapkan makna
batin dalam seni. Abstraksi merupakan mode
penciptaan seni yang memiliki kekhasan
estetika tersendiri. Mode ini memberi penekanan
pada sensibilitas dan intuisi dari seniman
dalam melihat fenomena, maupun dalam
mengekspresikan pengalamannya.
Dalam dalam wacana seni modern,
abstraksi seringkali dipahami sebagai pernyataan
kaum avant gardis untuk menegaskan
sikap pemberontakan atas keterbatasan
(ketidakstabilan) seniman dalam menangkap
realitas yang sebenarnya. Penyederhanaan
adalah hal yang dengan mudah terlihat ketika
mengamati praktik penciptaan kekaryaan
seni modern. Pemahaman ini menjadi lebih
kompleks ketika seniman modern membawa
abstraksi menjadi wahana makna batin dan
individualitas. Meskipun avant gardis senantiasa
memuja kebebasan individu dari aspek-aspek
diluar dirinya, manusia tetap tidak akan pernah
berhenti memperhatikan kehidupan roh atau
spiritualitas. Pemahaman seni rupa modern
yang komprehensif tidak pernah sampai pada
persoalan transendental. Hal inilah yang
kemudian menjadi pemicu bagi seniman modern
untuk mengamati dan mencari lebih jauh kepada
aspek transenden yang mendekati spiritualitas
manusia. Seringkali seniman modern dianggap
telah berpaling dari ketuhanan dan agama
sehingga karya seni yang tercipta jauh dari
Jurnal Penelitian Seni Budaya
Fiveolume 11 No. ane Juni 2019
2
ekspresi spiritual. Namun manusia adalah
individu spiritual, yang akan terus mencari
pengetahuan tentang sesuatu yang transendental,
dan hal tak terbatas, diluar kemampuannya. Seni
modernistic memanifestasikan hal ini, meski dengan
cara yang lebih implisit jika dibandingkan
dengan cara yang digunakan pada abad-abad
sebelumnya. Salah satu cara seniman modern
menyalurkan keinginannya untuk mencapai
transendensi adalah melalui manner abstraksi.
Persoalan transendental tidak mudah untuk
dipahami tanpa mencermati praktik seniman
ataupun hal-hal yang berpengaruh disekitar
medan penciptaan seninya.
Dalam karya seni kontemporer, para
seniman mengambil hal-hal yang paling
signikan dan esensial dari sebuah fenomena,
meski kemudian sering terlihat bahwa seni
kontemporer tidak lebih dari sekedar permainan
semantik. Abstraksi dalam semua praktik
seni kontemporer menunjukkan bahwa seni
adalah hasil dari apa yang seniman lihat dan
alami sebagai individu. Meski cukup sulit
untuk didenisikan, praktik seni kontemporer
telah dipengaruhi oleh perspektif estetika
pascamodern. Dalam pandangan yang lebih
luas, seni kontemporer tidak berusaha untuk
mengungkapkan realitas transendental.
Sebaliknya, jika dibandingkan dengan upaya
avant gardis yang berambisi menemukan
kosarupa baru dan mengenalkan ikonogra baru,
kaum posmodernis menghargai citra tradisional
meski kadang tidak menghormati makna aslinya.
Praktik posmodernis memiliki karakter ludis
(menggunakan pastische, ironi, dan kejeniusan),
mengolah dan mempermainkan ikonogra secara
artistik dalam ambisi memunculkan asosiasi dan
manipulasi emosi. Seni kontemporer juga hadir
dalam spektrum permainan semantik. Dalam
paradigma kritik seni, apa yang dilakukan bukan
berada dalam upaya menghubungkan praktik
dalam upaya transendensi, namun lebih pada
mengaktivasi rangkaian reeksi atas fenomena
sosial.
Karya seni kontemporer dalam spektrum
gagasan postmodernisme, baik menyangkut isi
dan bentuk, berfokus pada materi dan visual,
dan terkait dengan masalah sosial dan politik
tertentu. Jika karya tersebut menampilkan citra
religius, ia mengambil bentuk kutipan tema
ikonogra religi yang paling stereotip sebagai
komponen siap pakai. Atas dasar ini, banyak
kritikus seni yang berpendapat bahwa karya-
karya postmodern tidak berkaitan dengan iman
atau spiritualitas, melainkan melihat agama
sebagai institusi dan fenomena sosial.
Dalam hal ini, Kandinsky berargumen
bahwa seni yang hanya mengejar bentuk
dan upaya fabric tidak akan memiliki
kuasa atas batin dan masa depan. Seni adalah
milik kehidupan spiritual, sekaligus salah
satu unsur terkuat yang dimiliki kehidupan
spiritual. Reperesentasi belaka tidak akan
pernah mampu menyampaikan kedalaman
kehidupan batin sehingga seni harus bersifat not-
representasional. Kehidupan batin tidak akan
mampu ditangkap atau diwakili oleh representasi
bentuk sik, yang menjadi simbol dari sesuatu
yang lebih besar. Abstraksi adalah jalan untuk
membebaskan pikiran dari asosiasi dangkal
dunia sik sehari-hari, dan menghidupkan emosi
kehidupan batin. Ia menyatakan bahwa seni
memiliki kekuatan emosi dan potensi emosi ini
harus mampu memberi makna batin, sehingga
seni dapat dijadikan sebagai wahana transenden
dan seniman harus mampu merebut kembali
kekuatan ekspresi spiritualnya. Mengikuti way
abstraksi dalam penciptaan seni adalah sebuah
upaya untuk mengeksplorasi dunia yang baru,
yaitu ranah batin individu. Abstraksi adalah
jalan pencarian yang lebih dalam atas esensi
dan eksistensi kemanusiaan dalam dimensi
spiritualias. Spektrum spiritualitas inilah
yang kemudian menjadi kunci dari pemikiran
Kandinsky atas seni abstrak. Abstraksi mampu
menghadirkan ruang pemaknaan yang lebih
dalam karena terbukanya dialog antara seniman
– karya – pengamat secara spiritual.
Volume 11 No. 1 Juni 2019 3
Amir Gozali : Dimensi Spiritual Dalam Seni Lukis Abstrak Kontemporer Indonesia: Sejarah Dan Westwardacana
Dengan pemahaman di atas, penting
kiranya untuk menguji sekaligus mengeksplorasi
aspek transedental dan spiritualitas yang tampak
pada karya seni lukis abstrak kontemporer.
Penelitian ini dimaksudkan untuk menggali
dimensi spiritualitas (sebagaimana yang
dijelaskan di atas) sebagai bagian dari pencarian
esensi dan eksistensi kemanusiaan dalam diri
seniman abstrak Indonesia. Hal ini dilakukan
mengingat belum ada tulisan yang secara
komprehensif menggali dan mengeksplorasi
aspek spiritualitas yang muncul dalam karya
seni lukis abstrak kontemporer Indonesia,
sebagai bagian dari ekspresi dan refleksi
pencarian esensi senimannya.
Berpijak dari latar belakang yang
diurakan dalam pendahuluan diatas, maka
rumusan masalah yang diajukan dalam
penelitian ini adalah : ane. Bagaimana Sejarah
perkembangan seni lukis abstrak kontemporer
di Indonesia?
2. Bagaimana dinamika wacana yang melingkupi
seni lukis abstrak kontemporer di Indonesia?
3. Bagaimana dimensi transedental dan
spiritualitas yang muncul dalam karya-karya
seni lukis abstrak kontemporer Republic of indonesia?
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh
gambaran utuh dan jelas mengenai sejarah
serta dinamika wacana seni lukis abstrak
kontemporer di Indonesia. Penelitian ini
juga akan menganalisis dimensi spiritualitas
yang muncul dalam karya seni lukis abstrak
kontemporer di Indonesia.
Metodologi Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian
pustaka (library research), yaitu penelitian yang
obyek utamanya adalah buku-buku atau sumber
kepustakaan lain. Pencarian information dilakukan
melalui kajian pustaka dari buku-buku yang
relevan dengan pembahasan. Kegiatan studi
termasuk kategori penelitian kualitatif dengan
prosedur kegiatan dan teknik penyajian nalnya
secara deskriptif. Penelitian bertempat di
Perpustakaan Pusat dan kampus FSRD Institut
Seni Indonesia Surakarta, serta beberapa
perpustakaan daerah yang menyediakan data-
data sekunder. Penelitian ini menerapkan
beberapa pendekatan, antara lain (i) Pendekatan
historis, yaitu pendekatan untuk mengkaji sejarah
perkembangan seni lukis abstrak di Republic of indonesia;
(2) Pendekatan sosiologis, yaitu pendekatan
yang mengkaji tentang teori dan pemahaman
seni lukis abstrak kontemporer Indonesia beserta
dinamika wacana dalam perkembangannya guna
mendapatkan pemahaman secara komprehensif
atas dimensi spiritualitas yang melingkupinya.
Sumber data dalam penelitian ini
dibedakan menjadi dua: (ane) sumber data
primer, yaitu berupa buku-buku yang membahas
tentang denisi, sejarah, dan dinamika wacana
seni lukis abstrak kontemporer di Republic of indonesia
serta dimensi spiritualitas yang muncul dalam
karya-karyanya, (two) sumber data sekunder, yaitu
artikel ilmiah, laporan jurnalistik, dokumen,
dokumentasi karya yang berkaitan dengan seni
lukis abstrak kontemporer di Republic of indonesia.
Penelitian ini menggunakan metode
analisis isi (content assay ). Analisis isi
adalah suatu teknik penelitian untuk membuat
kesimpulan-kesimpulan (inferensi) yang
dapat ditiru (replicable) dan dengan data yang
valid, dengan memperhatikan konteksnya.
Metode ini dimaksudkan untuk menganalisis
seluruh pembahasan mengenai: (1) sejarah
perkembangan seni lukis abstrak kontemporer
di Indonesia; (2) dinamika wacana yang
melingkupi seni lukis abstrak kontemporer
di Indonesia; (3) dimensi spiritualitas yang
muncul dalam karya-karya seni lukis abstrak
kontemporer Indonesia.
Dalam menganalisis data setelah
terkumpul penulis menggunakan metode-
metode sebagai berikut: (ane) Metode Induktif.
Metode ini digunakan ketika didapati data-
data yang mempunyai unsur-unsur kesamaan
Jurnal Penelitian Seni Budaya
Volume eleven No. 1 Juni 2019
4
kemudian dari situ ditarik kesimpulan umum;
(two) Metode Deduktif. Metode ini digunakan
sebaliknya yaitu pengertian umum yang telah ada
dicarikan information-data yang dapat menguatkannya;
(3) Metode Deskriptif. Metode ini digunakan
untuk mendiskripsikan segala hal yang berkaitan
dengan pokok pembicaraan secara sistematis,
faktual dan akurat mengenai faktor-faktor
sifat-sifat serta hubungan dua fenomena
yang diselidiki. Dalam penelitian ini, penulis
memulainya dari tahapan merumuskan masalah,
membuat kerangka berpikir, menentukan
metode operasionalisasi konsep, menentukan
metode pengumpulan data, mengumpulkan
metode analisis data yang kemudian sampai
pada tahap interpretasi makna.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Seni Lukis Abstrak : Manifestasi Seni
Rupa Modern Barat
Seni abstrak adalah manifestasi seni
yang dianggap paling mampu menjustikasi
nilai-nilainya sesuai dengan semangat zaman.
Bagaimanapun salah satu prinsip seni rupa
modern adalah otonomi seni (dengan sendirinya
juga otonomi seniman). Dalam kaitan tersebut
maka seni rupa modern melalui seni abstrak
telah mampu menunjukkan prinsip-prinsip
estetik yang baru dan belum pernah ada
sebelumnya. Banyak pihak berpendapat bahwa
seni abstrak telah sampai pada kebuntuan,
namun sebaliknya, bisa pula diasumsikan seni
abstrak adalah puncak pencapaian prinsip-
prinsip seni rupa modern.
Formalisme memang menjadi jiwa seni
rupa modern yang terwujud dalam seni
abstrak. Karena itu pengertian modernisme
hampir-hampir sebangun dengan pengertian
formalisme, seperti diutarakan oleh Terry
Barrett, bahwa ‗Modernisme' dan ‗Formalisme'
kadang dipergunakan sebagai sinonim, dan
kedua konsep tersebut saling tumpang tindih‖
(Why Is That Fine art?, 107). Penopang utama
prinsip formalisme di abad ke-xx adalah teori
yang dibangun oleh Clive Bell dan Cloudless
Greenberg. Dengan menegaskan parameter
estetik bahwa bentuk adalah yang paling utama,
maka seni rupa abstrak dapat menetapkan dan
menjustikasi ‗kebenaran' dan ‗keutamaan'-
nya dibandingkan prinsip-prinsip seni yang lain.
Pengalaman estetik didapat melalui pencerapan
aspek-aspek kebentukan karya seni.
Karena itu standar kualitas dan kebenaran
ditetapkan berdasarkan teori „signideceit form‟
yang disusun oleh Clive Bell pada 1914.
Teori tersebut menetapkan yang utama dari
karya adalah (susunan) bentuknya. Sedangkan
Clement Greenberg pada pertengahan abad
ke-twenty menetapkan bahwa yang utama dari
seni lukis adalah esensi seni lukis itu sendiri:
kedataran kanvas dan penerapan cat yang
dapat menekankan kedataran kanvas sembari
mereeksikan eksistensi sang seniman. Karena
itu pokok soal dan ilusi diharamkan oleh
Greenberg.
Menurut Baudrillard seni rupa abstrak
dianggap lebih jujur dan ―masuk akal‖
dibandingkan seni rupa kontemporer yang
dianggap dekaden. Pada 1996 Baudrillard
menulis artikel yang menggegerkan seni rupa
kontemporer dengan judul "The Conspiracy of
Art‖, yang pada intinya menihilkan keberadaan
seni rupa kontemporer. Pada 2003, dia menulis
artikel berjudul "Art. . .Contemporary of Itself" ,
yang kurang lebih membandingkan seni rupa
modern dengan seni rupa kontemporer,
Modernity was the golden age of the
deconstruction of reality into its component
parts, a infinitesimal assay starting with
Impressionism and followed past Brainchild.
It was experimentally open up on all aspects of
perception, sensibility, the structure of the
object, and the dismemberment of forms. one
1 Jean Baudrillard, "Art. . .Contemporary of Itself"
dalam The Conspiracy of Fine art, penyunting Sylvère
Lotringer (New York: Semiotext(east), 2005), 89-ninety.
Selanjutnya ditulis The Conspiracy of Art.
5olume 11 No. i Juni 2019 5
Amir Gozali : Dimensi Spiritual Dalam Seni Lukis Abstrak Kontemporer Indonesia: Sejarah Dan Westwardacana
Sedangkan bicara mengenai seni rupa
kontemporer, Baudrillard berujar,
Contemporary art is only contemporary of itself.
It no longer transcends itself into the past or the
future. Its just reality is its operation in real
fourth dimension and its confusion with this reality. Nothing
differentiates information technology from technical, advertising,
media and digital operations. There is no more
transcendence, no more divergence, aught
from another scene: information technology is a reective game with
the contemporary world as it happens. This
is why contemporary art is null and void: information technology
and the world form a zippo sum equation (The
Conspiracy of Art, 89).
B. Perjalanan Seni Lukis Abstrak
Republic of indonesia
Keberadaan seni abstrak dalam sejarah
seni rupa Indonesia tidak bisa lepas dari
perkembangan seni rupa di Bandung melalui
keberadaan pendidikan guru gambar, yaitu
Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar
yang didirikan pada 1947 dan ditempatkan
sebagai bagian dari Fakultas Teknik,
Universitas Indonesia di Bandung (sekarang
menjadi Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB).
Keberadaan pendidikan tersebut adalah hasil
proposal yang diajukan oleh Simon Admiral
kepada pemerintah Belanda. Simon Admiral
mengajak serta beberapa dosen Belanda untuk
menjalankan lembaga pendidikan tersebut, yang
kemudian paling menonjol peranannya adalah
Ries Mulder, yang juga seorang pelukis. Dia
mengajar menggambar ekspresif, melukis dan
tinjauan seni. Kendati bertujuan menghasilkan
guru gambar, pada perjalanannya sebagian besar
mahasiswa justru menunjukkan minat utama
mereka pada mata pelajaran melukis. Dalam
kaitan dengan pengajaran seni lukis inilah
mengapa Bandung ditetapkan sebagai muasal
seni lukis abstrak.2
two Asmujo J. Irianto, Seni Lukis Abstrak Indonesia,
Jurnal Kalam no. 27 Tahun 2015
Keberadaan seni lukis abstrak di Bandung
tak lepas dari sosok Ries Mulder. Sebagai
pelukis yang gayanya dipengaruhi Jacques
Villon, gaya lukisan Mulder adalah kubistis,
bukan abstrak murni. Kecenderungan tersebut
ditularkan oleh Mulder kepada murid-muridnya
di Bandung. Hal itu diperlihatkan melalui
lukisan-lukisan yang dipamerkan di Bentara
Budaya pada 1954 tersebut. Hal itu dijelaskan
oleh Helena Spanjaard.
Pengaruh dari Ries Mulder sendiri
menjelma dalam bentuk-bentuk geometrik yang
abstrak yang selalu disusun dalam cara mosaik.
Penggunaan teknik warna yang istimewa dan
subdued pastel hues dapat diperhatikan dalam
hasil karya Mulder dan murid-muridnya.
Bandingkanlah suatu contoh dari karya Ries
Mulder, ―Perahu Layar‖ dengan ―Taman
Sentral‖ karya Sadali.iii
Dengan demikian jelas bahwa seni abstrak
Indonesia awalnya tidak sepenuhnya abstrak
murni, melainkan kubisme yang ditularkan
Mulder. Pada kenyataannya seni lukis abstrak
Indonesia tak pernah mengupayakan bangun
teori yang tersendiri dan valid (baik dari para
senimannya maupun kritikusnya). Terlihat
bahwa kecenderungan abstrak di Indonesia
adalah kecenderungan yang diadopsi dari seni
abstrak Barat dengan penyesuaian yang lebih
personal. Dengan kata lain, seni lukis abstrak
Indonesia lebih cenderung abtraksi daripada
abstrak murni, seperti diutarakan oleh Sanento
Yuliman.
Jadi, selagi dalam kecenderungan
terdahulu pelukis melukis benda-benda atau
obyek-obyek, betapa pun didistorsi, digayakan
atau pun terjelma sebagai fantasi, dalam
kecenderungan kelima ini pelukis menciptakan
bentuk-bentuk dengan bebas.
3 Helena Spanjaard, "Bandung, Laboratorium
Barat?" dalam Modern Indonesian Fine art: Three Generations
of Tradition and Change 1945-1990, penyunting Joseph
Fischer (New York: Panitia Pameran KIAS, 1990),205
Selanjutnya ditulis Modern Indonesian Art.
Jurnal Penelitian Seni Budaya
Volume eleven No. 1 Juni 2019
6
Ingatan kepada obyek dapat dikatakan hanyalah
untuk pegangan‖ saja dalam pikiran di tengah
susunan bentuk-bentuk abstrak, atau pun hanya
batu loncatan untuk memulai melukis. Pelukis
menciptakan susunan rupa yang ekspresif
bagi emosinya (segi liris) dan memuaskan
perasaannya akan rupa (segi estetis).4
Kendati persepsi dunia Barat pada seni
lukis modern Republic of indonesia yang dianggap lebih
rendah mutunya tidak semata-mata menunjuk
pada seni lukis abstrak, agaknya lukisan abstrak
menjadi tertuduh utama. Bagaimanapun, tanpa
konten dan tanpa narasi tentu saja lukisan-
lukisan para pelukis abstrak Bandung terlihat
sebagai epigon kecenderungan abstrak Barat.
Prinsip-prinsip orisinalitas, penerobosan
(mencari kebaruan), tentu sulit ditunjukkan
oleh lukisan-lukisan abstrak gaya kubistis
para seniman Bandung ketika itu. Hal ini
kemudian mendorong beberapa pelukis, seperti
Sadali—bisa dikatakan sebagai pelukis abstrak
paling terkemuka di Indonesia—untuk lebih
mendalami kemungkinan seni abstrak, lepas dari
bayang-bayang Ries Mulder. Sadali meneguhkan
pilihannya untuk mencari kemungkinan seni
lukis abstrak ala Indonesia. Itu sebabnya,
seperti diutarakan oleh Jim Supangkat, "Dia
meninggalkan gaya kubis awal tahun 1960-an
dan setelah itu menghasilkan lukisan-lukisan
abstrak yang mendeformasi lukisan lanskap." v
Pada akhir 1960-an lukisan abstraknya
kembali berubah menampilkan emosi yang
lebih terkontrol, dan muncul tekstur dalam
permukaan kanvasnya. Kadang-kadang Sadali
menggoreskan garis melalui ketebalan fragmen
tekstural dan pola-pola yang bebas di atas
kanvasnya, dan di antara torehan tersebut
iv Sanento Yuliman, Seni Lukis Indonesia Baru:
Sebuah Pengantar (Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta,
1976), 27. Selanjutnya ditulis Seni Lukis Republic of indonesia Baru.
five Jim Supangkat, Subconscious Works and Thoughts of
Ahmad Sadali, katalog pameran Edwin'southward Gallery, 1997, vi.
kadang-kadang dia menampilkan teks kaligra
Arab. Itu sebabnya lukisan Sadali kerap
disebut sebagai abstrak religius. Menurut Jim
Supangkat, Sadali adalah pelukis abstrak yang
memperkenalkan kepercayaan dan diskursus
modernisme dalam konteks perkembangan seni
rupa modern Indonesia.
Masa 1960-an disebut Sanento Yuliman
sebagai masa pertumbuhan seni lukis abstrak.
Memasuki 1960-an, setelah dosen-dosen
seni rupa ITB mengenyam pendidikan seni
rupa di Barat (terutama Amerika Serikat)
keyakinan dan pemahaman mereka tentang
modernisme meneguhkan pilihan mereka. Di
sisi lain keteguhan tersebut juga dibarengi oleh
keinginan mengolah sumber-sumber lokal. Itu
sebabnya gaya kubis bisa dikatakan menghilang,
dan yang kemudian tampil adalah upaya mencari
karakter personal. Hal itu setidaknya tampak
pada lukisan-lukisan abstrak But Muchtar,
Mochtar Apin, A.D. Pirous, Yusuf Affendy dari
masa sekitar 1968-1969 (Seni Lukis Indonesia
Baru, 37).
Tidak hanya di Bandung, di Yogyakarta
pun sejak 1963 Fajar Sidik menghasilkan
lukisan abstrak dengan susunan geometris.
Namun, menurut Sanento, lukisan abstrak Fajar
Sidik yang lebih penting adalah yang dibuat
setelah 1968, yang kerap diberi judul "dinamika
keruangan". Demikian pula Handrio sejak
1963 menghasilkan lukisan abstrak. Sementara
itu di Jakarta Oesman Effendi, sebagaimana
dikatakan oleh Sanento, melakukan abstraksi
yang sangat jauh terhadap bentuk-bentuk alam
dan lukisannya mendekati ungkapan musik.
Sanento Yuliman menjelaskan masa 1960-
an sebagai gejala ―kecenderungan abstraksi
yang lebih besar‖. Abstraksi lanjut tersebut
didorong oleh kehendak untuk menunjukkan
pengalaman yang lebih berupa sari kenyataan
yang dilihat manusia pada lingkungannya.
Atau bisa disebut sebagai pengalaman ―liris
akan alam‖. Sanento Yuliman memberikan
Volume 11 No. 1 Juni 2019 7
Amir Gozali : Dimensi Spiritual Dalam Seni Lukis Abstrak Kontemporer Indonesia: Sejarah Dan Due westacana
kesimpulan mengenai karakter seni lukis abstrak
dalam perkembangannya pada 1960-an tersebut.
Seni lukis abstrak pada masa ketiga ini,
sekalipun macam-macam coraknya, disatukan
oleh satu ciri, yaitu ―lirisisme‖. Semua itu
adalah ungkapan emosi dan perasaan pelukis
dalam mengalami dunia. Sebuah lukisan adalah
bidang ekspresif, tempat seorang pelukis seakan-
akan ―memproyeksikan‖ emosi dan getaran
perasaannya, merekam kehidupan jiwanya (Seni
Lukis Indonesia Baru, 41).vi
Dengan demikian jelas, menurut
Sanento Yuliman, bahwa seni lukis abstrak
Indonesia lebih merupakan abstraksi, bukan
asbtrak murni yang mencoba mencari
hakikat seni lukis. Sedangkan para seniman
abstrak di Barat berupaya terus mencari
esensi seni lukis. Hal ini ditunjukkan dengan
perkembangan Modernisme akhir yang ditandai
oleh eksistensi abstrak ekspresionisme, terutama
melalui karya-karya Jackson Pollock yang
dianggap (dan dikonstruksi melalui sejarah)
mampu menunjukkan hakikat seni lukis, seperti
diyakini oleh Greenberg,
C. Spiritualitas Dalam Seni Abstrak
Mod
Dengan memeriksa pemikiran-pemikiran
Kandinsky dalam 'On the Spiritual in Art'
yang telah berusia hampir satu abad, kita
akan mengunjungi kembali sisi spiritualitas
dalam laku penciptaan seni. Kita mungkin
dibayangi oleh dominasi aspek komersial yang
ditempatkan pada banyak seni kontemporer;
namun, untuk menghargai gagasan spiritualitas
yang diabaikan ini, kita harus membiarkan diri
kita benar-benar ikut serta dalam seni itu sendiri.
Ini membutuhkan waktu, ini meminta untuk
memperlambat dan benar-benar terlibat dengan
seni, sekaligus memerlukan sebuah bentuk seni
vi Sanento Yuliman, Seni Lukis Indonesia Baru:
Sebuah Pengantar (Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta,
1976), 27.
yang memungkinkan kita untuk terlibat
dengannya. Menurut Kandinsky, kekuatan
pendorong proses kreatif harus menjadi apa
yang disebutnya sebagai kebutuhan batin.
Kandinsky mengatakan,
All means in painting are sacred when they
are dictated past inner necessity. All means are
reprehensible when they do not spring from the
fountain of inner necessity.
. . . The artist must be blind to recogni ed„
and unrecogni ed„ form deaf to the teachings
and desires of his time. His open optics must
be directed to his inner life and his ears must
be constantly attuned to the vocalism of inner
necessity.vii
Kontribusi besar Kandinsky adalah untuk
menjelaskan bahwa teori harus selalu
mengikuti praktik, pandangan yang tampaknya
benar-benar terbalik di dunia seni saat ini.
Titik awal, titik referensi dan dasar dari
pekerjaan kita, tidak seharusnya teori tetapi
kebutuhan batin, resonansi tanpa dasar dari jiwa.
Karya yang berasal dari ide bukanlah karya seni
dengan cara Kandinsky memahami seni.
What he was after was something that
operates at a deeper more direct level. ―Any
theoretical scheme says Kandinsky will be
lacking in the essential of creation—inner need
for expression—which cannot be determined.
Neither the quality of the inner need, nor its
subjective form, can be measured or weighed.8
Kandinsky mengatakan ‗That pure painting
will affect the soul by its own original means
of expression, by means of paint, color, form,
the distribution of lines and planes, and their
interrelations, in and of themselves‟ nine
7 Vassily Kandinsky, Concerning the Spiritual in Fine art,
trans.W.T.H. Sadler, (New York: Dover, 1977), 35.
8 Kandinsky, Concerning the Spiritual in Fine art, 35.
9 Kandinsky: Complete Writings on Art, ed. Kenneth
C. Lindsey & Peter Vergo, (New York: Da Capo Printing,
1994), 103.
Jurnal Penelitian Seni Budaya
Volume xi No. 1 Juni 2019
8
Bagi Kandinsky, ini bukan penolakan terhadap
dunia cloth, seperti yang sering dipikirkan,
tetapi pemenuhan spiritualnya, yang sakral,
yang mengekspresikan kedalaman mendalam
dari bidang material dalam hal resonansi
langsungnya dengan jiwa dan mengekspresikan
resonansi sakral dalam cat, dalam warna,
sejalan di dalam bentuk. Kritikus seni dan
sejarawan Donald Kuspit menunjukkan bahwa
tidak jelas apa yang dimaksud Kandinsky
oleh pengalaman spiritual, bahwa ia tidak
pernah secara pasti mendefinisikannya, di
luar mengasosiasikannya dengan agama, dan
menyatakannya sebagai pusat kehidupan batin.
10 Simone Weil -lsuf, visioner radikal, dan
mistik religius - mengingatkan kita bahwa
kata spiritualitas tidak menyiratkan aliasi
keagamaan tertentu, atau aliasi apa pun, dan
ia mengingatkan kita bahwa spiritualitas tidak
boleh dilekatkan pada sebab apa pun, atau
gerakan, atau bahkan ke rezim dan suatu
bangsa.11
Seni abstrak dapat menjadi laboratorium
untuk penyempurnaan dan pertumbuhan jiwa. Ini
bisa menjadi penegas untuk kontemplasi, cara
memahami dan melibatkan realitas pada tingkat
terdalamnya, dan sebuah portal ke pengalaman
estetika baru yang membuka lapisan mendalam
dari perasaan dan makna, sering kali tidak dapat
disebutkan namanya. Intinya, isinya tidak dapat
ditentukan, tidak dapat dideskripsikan, dan tidak
pernah habis — sama seperti kita.
D. Spiritualitas Dalam Seni Kontemporer
Dalam pandangan luas, seni kontemporer
tidak bersuaha untuk mengungkapkan realitas
transendental. Bukan berarti para seniman hari
x Donald Kuspit, Reconsidering the Spiritual
in Art, published in Blackbird, an on-line Periodical
of literature and the arts, Spring 2003 Vol.2 No. ane,
http://www.blackbird.vcu.edu/v2n1/gallery/kuspit_d/
reconsidering_text.htm.
eleven Simone Westeil, The Need for Roots, trans. Arthur
Wills, (New York, Harper & Row, 1971), 97.
ini tidak menggunakan tema ikonik atau narasi
dari berbagai tradisi keagamaan. Sebaliknya,
jika dibandingkan dengan upaya avant gardis
yang berambisi menemukan kosa rupa baru
dan mengenalkan ikonografi baru, kaum
posmodernis menghargai citra tradisional meski
kadang tidak menghormati makna aslinya.
Praktik posmodernis memiliki karakter
ludis (menggunakan pastische, ironi, dan
kejeniusan), mengolah dan mempermainkan
ikonogra religi secara artistik dalam ambisi
memunculkan asosiasi dan manipulasi emosi.
Secara lugas, seni kontemporer hadir dalam
spektrum permainan semantik. Dalam paradigm
kritik seni, apa yang dilakukan bukan berada
dalam upaya menautkan praktik dalam
koridor upaya transendensi, namun lebih pada
mengaktivasi rangkaian reeksi atas fenomena
sosial, iman, dan religiusitas. Maka, jika melihat
pada praktik kekaryaan seni kontemporer,
referensi ikonogra yang muncul tidak bisa
secara serampangan dimaknai (dan mungkin
juga tidak relevan) sebagai referensi kearah
transendensi. Tanpa memperdulikan apakah
karya seni itu benar-benar mengarahkan kita
pada sesuatu diluar diri seniman atau sesuatu
yang berada ‗di atas' mereka, karena praktek
yang dilakukan adalah bentuk observasi estetik
atas serangkaian keyakinan maupun perilaku
dari orang-orang yang mempercayai wilayah
transendental ini. Permainan akan tanda dan
makna adalah kunci bagi serangkaian mode kerja
seniman, yang dalam kajian kritik, seringkali
acuh tak acuh akan persoalan transendensi.
Sementara disatu sisi mereka sangat intens
dengan persoalan wacana sosial dan politik.
Persoalan hilangnya refleksi atas
persoalan transendental dalam seni dapat dilihat
dalam konteks pilihan yang dibuat oleh seniman
serta jenis kepekaan yang ditemukan dalam
diri pengamat. Ketidakhadiran transendensi
dalam masyarakat modern dikarenakan bahwa
modernitas telah memaksa pria dan wanita
Volume xi No. one Juni 2019 9
Amir Gozali : Dimensi Spiritual Dalam Seni Lukis Abstrak Kontemporer Indonesia: Sejarah Dan Westacana
memasuki konteks individu, menemukan
kehidupan mereka telah terfragmentasi, terbagi
dalam serangkaian tugas dan fungsi dalam
ikatan yang longgar. Masing-maisng meski
dikejar dan diupayakan dalam konteks yang
berbeda dan beragam dalam visi kesatuan dunia.
Semuanya mesti dinegosiasikan agara mampu
menjadi bagian dari kesatuan ini, menjadi bagian
dari tatanan eksistensi logis tertentu. Dalam arus
utama kehidupan modern inilah negosiasi ini
dihadirkan, jika kita ingin mengikuti perubahan
yang ditawarkannya.
Lantas, apakah ini berarti bahwa dorongan
kearah transendensi ini lenyap sepenuhnya dari
praktik masyarakat kontemporer, dan ia tidak
mempunyai tempat dalam seni kontemporer?
Penulis percaya hal ini masih ada
meski ia nampak parsial dan acak. Sistem
konotasi sebelumnya yang berurusan dengan
persoalan transendensi, tidak cukup lagi
memadai untuk kondisi kehidupan modern
dan karakter seni yang diciptakan hari ini.
Posmodernisme menghilangkan transendensi
dari fokus perhatian sehingga kita kehilangan
konsep yang memungkinkan kita melakukan
identikasi dan karakterisasi akan persoalan ini.
Sementara terminologi yang digunakan dalam
seni kontemporer seringkali tidak memiliki
referensi transenden. Apparatus konseptual dari
sistem metasik tradisional sering dipandang
tidak relevan berhadapan dengan sistem dalam
menghadapi kenyataan. Hal yang seringkali
muncul pada individu yang bergelut dalam ranah
seni. Bahkan ketika para seniman menyerahkan
mekanisme transendental kekaryaan mereka
pada akar religi, akan nampak sangat retak,
miskin dan tidak lengkap, jika kita bandingkan
dengan visi spiritual yang kompleks yang
ditawarkan oleh tradisi. Dalam kontingensi
dunia, sekulerisasi dan beragam persoalan
yang membentuk isi kehidupan sehari-hari,
persoalan transendensi ini menempuh resiko
hanya dianggap sebagai tambahan yang tdak
relevan, bahkan ketika ia muncul sebagai
gagasan penciptaan seni.
Nampak dihadapan kita ‗marjinalisasi'
transendensi dalam seni kontemporer hari ini,
sebuah ungkapan yang menghadirkan dua
maksud. Di satu sisi adalah keterpinggirannya
dari arus loso dan estetika seni. Sisi lain,
penekanan akan karakter fragmentaris dan
acaknya kehadiran isu transendensi ini dalam
praktik seni kontemporer. Fragmentasi dan
keacakan ini berarti bahwa mereka sering
diabaikan atau dianggap tidak relevan dalam
perbincangan, bahkan, dalam wacana seni
sekalipun.
Harus diakui dengan jujur bahwa realitas
masyarakat hari ini senantiasa berupaya mencari
sensasi spiritual dalam beragam praktik, baik
melalui ragam praktik tradisi religi maupun
kepercayaan. Orang-orang mengahrapkan
serangkaian pengalaman sensoris baru ketika
mereka kontak dengan agama, dengan harapan
mereka mampu membuka perspektif transenden.
Bisakah sikap seperti itu dikaitkan dengan apa
yang dilakukan seniman? Melirik praktik seni
advanced Eropa pada paruh pertama abad
ke-20 dalam konteks agama, mereka menolak
bentuk-bentuk yang terorganisir maupun yang
melembaga, mengidentikasi gerakan mereka
sebagai kekuatan reaksioner, kebebasan dan
pemberontakan atas sikap otoriter. Namun,
meski melepaskan diri dari kepercayaan
religi ortodoks, mereka masih menggunakan
"retorika transendensi dan spiritualitas" dalam
konsepsi seni mereka. Sulit untuk mengatakan
bahwa hal ini sekedar retorika, namun penulis
cenderung percaya bahwa pandangan Wassily
Kandinsky tentang spiritualitas dalam seni
dalam Apropos the Spiritual in Art relevan
dalam praktik seni mod, dan menjadi acuan
otentik dalam mengidentikasi cara-cara baru
untuk menempuh jalan transendensi dalam
seni. Dan dalam banyak catatan sejarawan,
upaya para seniman era modern ini ditempuh
Jurnal Penelitian Seni Budaya
Fiveolume 11 No. 1 Juni 2019
10
dengan pengabaian tema keagamaan tradisional
dan memusatkan perhatian pada kemungkinan
yang ditawarkan oleh abstraksi. Konsepsi dan
pengalaman yang ditawarkan avant gardist
pada paruh pertama abad ke-20, dan kontinuitas
mereka di awal paruh kedua abad ini, didasarkan
pada keyakinan bahwa spiritualitas abstrak
harus menggantikan aktivitas religius yang lebih
konkret ( berdasarkan iman dan perbuatan baik)
yang bertujuan mencapai transendensi. Jika para
seniman menyinggung konsep agama, mereka
biasanya meminta pertolongan para mistikus.
Bahkan diyakini bahwa jika para mistikus
telah menggunakan medium seni visual dan
bukan secara lisan menggambarkan penglihatan
mereka, mereka pasti telah menciptakan lukisan
abstrak.
Transendensi yang dipahami ini
dimaksudkan untuk merusak efek sensorik,
yang dimunculkan melalui pengabaian gurasi
dan pengurangan bentuk dan warna secara
ekstrem dalam lukisan mereka. Jika ada sesuatu
yang transenden di atas alam dan realitas
makhluk, cara yang tepat untuk mendekatinya
tampaknya adalah dengan melakukan penolakan
terhadap daya tarik visual seni. Oleh karena
itu, kriteria estetis ditangguhkan. Kontak
dengan lukisan abstrak adalah menempatkan
penonton pada jalur menuju transendensi dengan
melepaskannya dari hiruk-pikuk kehidupan
sehari-hari. Pengalaman ini dianggap lebih
kaya, lebih komprehensif, dan lebih radikal
daripada yang ditawarkan oleh agama dalam
kehidupan religius biasa. Diperkirakan bahwa
dematerialisasi seni, atau perampasan karya
seni tentang interaksi visual, akan membawa
pemirsa lebih dekat ke subjek transenden yang
tidak berwujud.
Setelah tawaran artistik yang radikal dari
gerakan avant-garde dan neo-avant-garde, maka
kemunculan seni postmodern mudah ditafsirkan
sebagai penolakan atas nilai-nilai transenden.
Karya seni kontemporer dalam spketrum gagas
postmodernisme, baik menyangkut isi dan
bentuknya, berfokus pada materi dan visual,
dan terkait dengan masalah sosial dan politik
tertentu. Jika karya tersebut menampilkan
citra religius, ia mengambil bentuk kutipan
tema ikonogra religi paling stereotip sebagai
komponen siap pakai. Atas dasar ini, banyak
kritikus seni yang berpendapat bahwa karya-
karya postmodern tidak berkaitan dengan iman
atau spiritualitas, melainkan melihat agama
sebagai institusi dan fenomena sosial.
E. Ragam Karya Abstrak Kontemporer
Indonesia Bertemakan Spiritualitas
Istilah spiritual dan spiritualitas pada
awalnya dibedakan dengan religiusitas, yaitu
penghayatan ke-Tuhan-an yang berada dalam
keimanan di institusi agama. Religiusitas
menjunjung tinggi nilai kesucian religi yang
berada dalam sistim ajaran agama-agama formal,
yang pelaksanannya sering menampakkan nilai
perbedaan antara agama satu dengan yang lain.
Sementara gerakan spiritual cenderung ingin
memahami dan menghayati nilai ke-Tuhan-an
dalam bentuk penghayatan personal, yang tidak
terbatasi dalam sekat-sekat etik dan moralitas
agama—formal. Spiritualitas menjadi spirit
memahami nilai-nilai keilahian. Konsep tersebut
mendudukan spiritualitas sebagai penghayatan
ke-Tuhan-an yang berada di luar kategori
institusi agama.
Dalam konteks Indonesia istilah spiritual
pada awalnya dipakai untuk mewadahi tradisi
keagamaan di luar institusi agama resmi
yang dikategorikan Aliran Kepercayaan dan
Kebatinan. Berbeda dengan konteks di dunia
Barat dimana gerakan spiritual ―terjadi pada
saat menurunnya tingkat aliasi publik terhadap
agama-agama besar terutama Kristen‖. Dan kini,
khususnya di Indonesia setidaknya sejak tahun
akhir 1990an, ―agama-agama besar terutama
Islam secara massif telah menggunakan istilah
spiritual dan spiritualitas sebagai padanan dari
Volume 11 No. 1 Juni 2019 xi
Amir Gozali : Dimensi Spiritual Dalam Seni Lukis Abstrak Kontemporer Indonesia: Sejarah Dan Wacana
ekspresi batin keberagamaan [inner religious
expression ]‖. Istilah spiritualitas telah menjadi
padanan dari religiusitas.
Dalam narasi sejarah, posisi Hana dan
karya-karya abstraknya cenderung menyimpang,
sekurang-kurangnya karena dua alasan yang
justru bisa memberikan peluang menarik untuk
mempersoalkan kembali seni rupa abstrak
di Indonesia. Pertama, Hana memulai karir
kesenimanannya secara serius pada awal 1990-
an, ketika seni rupa abstrak justru menyurut
dominasinya dan banyak seniman di Indonesia
justru melakukan eksodus besar-besaran
menuju ‗seni representasional' (dalam berbagai
mediumnya: lukisan, fotogra, patung, instalasi,
fotogra, performans, video, dan sebagainya).
Kedua, dari segi asal-muasal, seni abstrak Hana
boleh jadi cenderung terpisah dengan diskursus
seni abstrak yang dominan di Indonesia : Jika
selama ini diskusi-diskusi tentang seni abstrak
dan formalisme (prinsip-prinsip pembentukan)
selalu dikaitkan dengan keberadaan ‗Mazhab
Bandung', nyatanya Hana justru tak pernah
mengenyam pendidikan formal di Bandung.
Karya-karya Hanafi dalam Migrasi
Kolong Meja #1 memperlihatkan bagaimana
Hanafi tampaknya masih kukuh pada
pendiriannya. Untuk menggarap bidang-bidang
kanvas yang luas. Yang memungkinkannya
bermain di antara laburan-laburan kuas yang
intens, dan garis-garis yang ditorehnya secara
spontan. Yang nampak secara dominan pada
lukisan-
lukisannya sama sekali bukan kesan-kesan yang
mengarah kepada persepsi kita tentang objek-
objek representasional apapun. Sekilas kita
akan ‗hanya' mengenali sapuan-sapuan true cat dan
torehan-torehan garis.
Metode melukis Hanafi sepertinya
ekspresionistik. Tapi berbeda dengan pendekatan
ekspresif yang menekankan perasaan dan
emosi personal yang langsung. Cara melukis
Hana tak bergantung pada aspek-aspek psikis
ataupun mental apapun. Keseniannya tidak
mengutamakan manifestasi dari perasaan-
perasaan subjektif. Bukan pula menjadi katarsis
atau pemurnian diri dari persoalan-persoalan
psikologis yang membebani. Alih-alih, caranya
mengolah bidang-bidang kanvas justru lebih
bergantung pada nalar. Jika abstrak formalisme
identik dengan pemecahan masalah bentuk
melalui suatu metodologi visual. Misalnya
melalui penyederhanaan, stilisasi atau deformasi
objek. Metode abstraksi Hana lebih menyerupai
suatu negasi terhadap logika visual objek-objek.
Ia juga mengakui bagaimana keterlibatan
gerak tubuh maupun gestur dalam proses
kerja melukis. Yang seringkali berperan dalam
mengaburkan atau menyembunyikan bentuk,
terkadang sampai tingkat yang paling radikal.
Kekhasan seni lukis abstrak Hanafi
terletak pada keberaniannya menjelajahi objek-
objek yang justru abstrak — ‗abstrak' dalam
pengertian ‗tidak konkret' atau ‗tak terjamah',
Jurnal Penelitian Seni Budaya
Volume 11 No. 1 Juni 2019
12
dan pada tingkatan tertentu bersifat reektif,
kalau bukan spekulatif. Perhatiannya pada ruang
not-sik, cahaya, bayangan dan kegelapan, dan
sebagainya, menunjukkan perbedaan dengan
pelukis-pelukis abstrak lain yang ‗hanya'
menggunakan objek-objek nyata / konkret
(misalnya, lansekap, gur, alam benda.) sebagai
titik berangkat. Jika ada seorang pengamat
yang mengatakan bahwa Hana bekerja dengan
pendekatan minimalis. Sementara pada tataran
gagasan Hana justru menyukai kompleksitas.
Meja merupakan sebuah ―arena‖, tak
hanya pekerjaan dan urusan pribadi. Tapi juga
perbincangan, perjanjian dan mufakat atau
kesepakatan sosial yang semuanya berawal
serta diresmikan di atas meja. Oleh sebab itu,
meja akhirnya kerap pula dipahami bukan
melulu sebagai benda, namun suatu metafora,
representasi dari realitas yang sudah menjadi
kesepakatan dan bisa dijelaskan. Maka tak ada
yang lantas menjadi penting dengan ruang yang
berada di bawahnya, yakni, kolong meja.
Memaknai karya ini dalam dimensi
spiritrualitas, kolong meja adalah ruang yang
bukan sebuah ―arena‖ melainkan melulu
kegelapan. Namun mengabaikan kolong meja
adalah penyangkalan terhadap sesuatu yang
niscaya, sesuatu yang bersembunyi di balik
realitas dan melakukan manipulasi, bahkan di
atas meja ia menyaru menjadi realitas. Sesuatu
yang berada di balik berbagai kesepakatan yang
berlangsung di atas meja, namun yang tetap tak
bisa terjelaskan. Maka, kontak dengan lukisan
abstrak Hana adalah menempatkan
penonton pada jalur menuju transendensi dengan
melepaskannya dari hiruk-pikuk kehidupan
sehari-hari.
Gambar xi. Dadan Setiawan • #thoughtful
#openminds #realize #it'sallinyourhead
(lost in IG serial) • 2015 Oil on canvass • 90 ten 90 cm
Panorama image yang dijepret dari
landscape yang tidak begitu terkenal namun,
ruang dan waktu sebagaimana yang ingin
dituangkan dalam karya Dadan Setiawan
diatas. Panorama alam yang kemudian ditimpa
dengan metode layering seperti pada olah
digital, prototype yang berumpuk masing-masing
berbicara pada lapis-lapis narasinya. Imaji-imaji
yang memiliki dimensi ruang dan konteks,
dijajarkan dalam ruang ―baru‖ pada realitas
karya. Berbagai image tersebut dipilihnya tidak
secara sembarang, namun dipilih berdasarkan
sebuah pemikiran, atau berdasarkan rasa
yang mengetarkan ingatan dan pengalaman
pribadinya. Sebagaimana halnya diri yang
senantiasa akan mengalami gap dalam relung-
relung psikologi manusia menjalani realitas
hidup. Pengalaman itu real dialami, sekaligus
juga abstrak—mengendap dalam penghayatan
personal, seperti pengalaman spiritual itu
sendiri.
Masih pada permainan lapisan out
of focusouth [ blur ], dan pembesaran [ zooming]
pada image yang beresolusi rendah sehingga
menghasilkan filigree—pixel dalam karya Dadan
Setiawan. Fenomena mistiness dalam imaji digital
sangat jamak dipakai di media televisi, biasanya
dipakai untuk menyamarkan rekaman realita
Volume eleven No. 1 Juni 2019 13
Amir Gozali : Dimensi Spiritual Dalam Seni Lukis Abstrak Kontemporer Republic of indonesia: Sejarah Dan Wacana
tertentu. Melalui teknologi kita mempermainkan
realita, walaupun hanya realita dalam media
digital semata. Tetapi karena disiarkan ke ruang
publik, permainan olah digital tersebut telah
mempengaruhi persepsi terhadap sebuah realita.
Imaji—teknologi juga telah memangkas ruang
imajinasi manusia moderen. Dalam kekuasaan
rezim imaji, manusia masa kini mendapatkan
dirinya tak lagi punya ruang yang lapang untuk
berimajinasi, bahkan mimpi-mimpinya pun
telah disusupi oleh imaji bentukan. Rezim imaji
telah merengut alam bawah manusia sekarang,
demi kepentingan persuasi konsumerisme.
Gambar 12. Made Wiguna Valasara • 10 Days
Voice • 2015
Mixed media on paper [ 100 pcs. ] • 200 ten 200 cm
Made Wiguna Valasara mengetengahkan
soal aspek vibrasi bunyi dalam tradisi spiritual
Hindu Bali. Seperti pemakaian Genta sebagai
menghantarkan doa-doa pendeta, serta untuk
membangun suasana religius. Fiveibrasi bunyi
menjadi elemen penting dalam kekhusyukan
prosesi religi. Dalam suasana religious, waktu
sejenak seperti terhenti atau terperangkap dalam
ruang, saat itulah umat mendapat pengalaman
spiritual. Tetapi kehidupan religi di zaman iptek
seperti sekarang, vibrasi bunyi yang membawa
suasana spiritual berhimpitan dengan derap
kehidupan masyarakat yang menjadi lebih
praktis dan pragmatis.
Karya Valasara yang memanfaatkan
sumber-sumber bunyi dari pengeras suara yang
melantunkan puja [Trisandya], suara genta dan
sumber bunyi lainnya, dipadukan dalam sebuah
karya instalasi multimedia. Karya tersebut
memakai sistem sensor, yang hanya akan
bereaksi ketika ada orang di depannya. Ketika
berbagai sumber bunyi yang lekat dalam tradisi
ritual berpadu, audien serasa diajak memahami
kembali esensi dari vibrasi bunyi dalam
mentransformasi nilai religiusitas dan nilai
spiritualitas. Kehidupan religiusitas di zaman
sekarang, juga mendapatkan diri berhimpitan
dengan representasi religiusitas antar agama.
Fenomena representasi itu, kerap menjadikan
agama terjerebab pada persaingan representasi
identitas. Contoh sederhana, adalah fenomena
pemakaian alat pengeras untuk menyiarkan
puja tiga waktu dalam tradisi baru Hindu Bali.
Alih-alih bermaksud mengguatkan religiusitas
umat, bisa jadi siar puja itu hanya sekedar
menjadi penanda waktu. Ada banyak karya
seni lukis abstrak Indonesia yang bernafaskan
spiritualitas dalam karya-karyanya. Namun,
dikarenakan penelitian ini berfokus pada kunci-
kunci pembacaan nilai dan aspek spiritualitas
dalam karya seni lukis, maka perlu untuk ditilik
kembali pada banyak gagasan dan kekaryaan
seni lukis kontemporer yang berkembang
di Indonesia saat ini. Memang tidak banyak
seniman yang mengambil pilihan abstrak
sebagai jalan kesenian, namun sekiranya kita
bisa memahami bahwa senantiasa ada dimensi
spiritualitas dalam beragam ekspresi seniman
hari ini. Menemu kunci-kunci pembacaan dan
teori akan membawa kita pada pemahaman
yang lenbih mendalam terkait bagaimana
dimensi ini akan membawa pemaknaan seni
lukis yang lebih mendalam, menyoal hal-hal
yang senantiasa terlepas dari gagasan-gagasan
terkait kemanusiaan dan kekuatan diluar dirinya
: imanensi dan spiitualitas.
Jurnal Penelitian Seni Budaya
Volume xi No. 1 Juni 2019
fourteen
Simpulan
Dalam penelitian ini telah dijelaskan
bagaimana abstraksi telah berkembang melalui
berbagai cara dan pengaruh selama abad
kedua puluh, dan tetap dalam seni selama
era postmodern. Ketika hal itu terjadi pada
awal abad ke-20, abstraksi mencerminkan
pikiran, ketakutan, dan keinginan terdalam dari
masing-masing seniman. Itu adalah pikiran
terdalam yang menjadi kebutuhan batin, yang
Kandinsky percaya menyediakan karya seni
dengan makna dalam pengertian spiritual. Di
dalam masyarakat kontemporer, seni menjadi
lebih cepat terinspirasi oleh teknologi baru dan
lebih menonjol lagi, oleh produksi massal dan
konsumerisme massa.
Dengan dengungan seni kontemporer
dan nilai utama seni dalam banyak hal adalah
nilai komoditasnya, yang dicatat oleh Donald
Kuspit dalam artikelnya 'Revisiting the Spiritual
in Art' (Kuspit, 2004), penulis mempertanyakan
apakah ada jiwa dimasukkan ke dalam karya seni
abstrak hari ini? Apakah seni memiliki arti yang
benar atau dibuat hanya untuk mendapatkan
label harga dan ketenaran semata? Hal Foster
dan Jeremy Gilbert-Rolfe mencatat bagaimana
para seniman di akhir abad ke-20 membuat seni
abstrak untuk pasar seni dan bahwa para kritikus
dan kurator memilih untuk mendiskusikan
karya seni yang telah melewati pasar, karena
mereka menganggapnya aman (Foster, H. dan
Gilbert-Rolfe, J., 2002). Tentunya ini bukan nilai
nyata untuk seni, yang penulis percaya, seni
adalah bentuk komunikasi dan bukan bentuk
komodikasi.
Sangat menarik untuk dicatat bahwa
ada gagasan dari pengaruh primitif dalam
abstraksi sepanjang awal abad kedua puluh.
Kubisme mengambil pengaruh dari topeng
primitif, para Dadais ingin membawa hal-hal
kembali ke ekspresi sederhana mereka dengan
menciptakan suara yang tidak masuk akal
dan primitif, dan surealis dan ekspresionis
abstrak berusaha mengakses akal bawah sadar
melalui otomatisme, yang mencerminkan
semacam proses perdukunan dan ritualistik.
Kita dapat berpikir kembali ke zaman primitif,
segala sesuatunya sangat mendasar, kita
berjuang untuk bertahan hidup dan kita berusaha
untuk mengkomunikasikan apa yang kita
lihat. Gambar masih ada hari ini dari lukisan
gua datang kembali ke zaman prasejarah.
Melalui sarana-sarana dasar, gambar-gambar ini
menunjukkan kebutuhan batin yang mendalam
untuk berkomunikasi dan menggambarkan
kejadian-kejadian zaman. Hari ini, karena
masyarakat kita saat ini menjadi salah satu
yang memakan kelebihannya sendiri, kita dapat
melihat bagaimana kita telah begitu jauh dari
diri primitif kita. Dapat dicatat, bahwa dengan
sejumlah metode komunikasi yang tersedia saat
ini, barangkali kita terlalu dimanja oleh pilihan.
Kita mengandalkan begitu banyak hal yang
tidak nyata, sehingga mudah untuk melupakan
hal-hal nyata yang sederhana dan penting yang
terlewatkan di dunia konsumerisme massal.
Dengan memeriksa esai Kandinsky
'On the Spiritual in Art', yang sudah ada sejak
hampir seratus tahun, ide-ide yang diajukan
Kandinsky pada saat itu, memang ada dalam era
postmodern dan dapat ditemukan di dalam seni
kontemporer. Mereka mungkin dibayangi oleh
dominasi aspek komersial yang ditempatkan
pada banyak seni kontemporer; Namun, untuk
menghargai gagasan spiritualitas yang diabaikan
ini kita harus membiarkan diri kita benar-benar
mengambil bagian dalam seni itu sendiri. Ini
membutuhkan waktu, itu meminta kita untuk
memperlambat dan benar-benar terlibat dengan
seni, tetapi kita juga membutuhkan suatu bentuk
seni yang memungkinkan kita untuk terlibat
dengannya.
Melalui penelitian ini, penulis telah
menunjukkan bahwa teori abstrak awal yang
diajukan oleh Kandinsky relevan dalam seni
abstrak kontemporer. Dengan berfokus pada
Volume 11 No. 1 Juni 2019 15
Amir Gozali : Dimensi Spiritual Dalam Seni Lukis Abstrak Kontemporer Republic of indonesia: Sejarah Dan Westwardacana
sarana internal dan eksternal untuk menciptakan
seni, memberi perhatian khusus pada sarana
internal, yang digambarkan Kandinsky sebagai
kebutuhan batin, telah menunjukkan bagaimana
cara-cara ini terbukti dalam karya-karya
kontemporer seniman Indonesia. Para seniman
ini secara aktif berusaha menciptakan bentuk
seni yang menarik yang dapat mengakses
perasaan dan emosi di dalam penonton, sehingga
mengakses internal dalam dunia eksternal. Suatu
seni yang mencapai ini adalah sesuatu yang
memiliki pengaruh besar pada para pemirsanya,
dengan demikian, memunculkan keyakinan
Kandinsky tentang kebutuhan batin yang
merupakan seni spiritual.
Kepustakaan
Buku :
Bell, J. (2007). Mirror of the World: A New
History of Art. New York: Thames &
Hudson.
Collins English language Dictionary, 3rd edition.(1991)
Glasgow, Harper Collins Publishers.
Dantini, K. (2008). Modernistic & Gimmicky
Art. New York: Sterling Publishing.
Foster, H. (2002) ‗Signs Taken for Wonders'
in Abstract Art in the Late Twentieth
Century, ed. F. Colpitt, Cambridge
University Press, New York.
Johnson, Ken. ―Art Review: The Modernist
vs. the Mystics.‖ New York Times 12 Apr.
2005:n.p. Print.
Kandinsky, Wassily. Concerning the Spiritual
in Art. New York: Dover Publications,
1977. Print.
Moszynska, A. (2004) Abstract Art, London,
Thames and Hudson Ltd. Read, H.
(2006) A Concise History of Mod
Painting. London, Thames and Hudson
Ltd.
Young, Rebecca A. The Modernistic State Of Being:
Mystical Spirituality In Twentieth Century
American Avant-Garde Painting (Thesis),
Kinesthesia of Baylor University, Waco, Texas
2014.
Jurnal :
Fenton, T. ‗Clement Greenberg Modern
and Postmodern ‟ [Online] Available
at:
http://world wide web.sharecom.ca/greenberg/
postmodernism.html
Accessed: 12 Oct.
2018
Fuller, P. (1987) ‗Marker Rothko, 1903-1970',
The Burlington Magazine, Vol.129,
No.1013, pp.545-547, available at: http://
www.jstor.org/stable/883115.Accessed 18
Oct. 2018.
Kosoi, N. (2005) „Pettiness Made Visible:
The Case of Rothko‟s Paintings‟,
Art Journal, Fiveol.64, No.2, pp.20-31,
available at: http://world wide web.jstor.org/
stable/2006838 Accessed eighteen Oct. 2010.
Kuspit,D.(2004) "Revisiting the Spiritual
in Art‟, availableat: http://www.bsu.
edu/web/jfillwalk/BrederKuspit/
RevisitingSpiritual.html. Accessed 28/
September/2018
Lavine, E. and Pollock, J. (1967) ‗Mythical
Overtones in the work of Jackson Pollock‟
Fine art Journal, Fiveol.26, No.4, p p .3 six half dozen -
368+374, available at: http://www.
jstor.org/stable/775067 Accessed eighteen/
October/2018.
Levine, Edward M. Abstruse Expressionism:
The Mystical Experience. Art Journal 31.1
(1971): 22-25. JSTOR. Web. 12 Mar. 2018.
Selz , P. (1957) ‗The Artful Theories
of Wassily Kandinsky and Their
Relationship to The Origin of Non-
Objective Painting‟, The Ar
Bulletin,Vol.39,No.ii,pp.127-136, available
at: http://www.jstor.org/stable/3047696
Accessed seven/October/2018
ResearchGate has not been able to resolve whatsoever citations for this publication.
- Edward M. Levine
The growth of Conceptual Fine art in the sixties has been interpreted forth with Pop Art as a farther reaction against the personalization of art that marked Abstruse Expressionism. The gesture, drip, and splatter of Action Painting were seen as marks of the hand and consequently of the personality of the artist. Harold Rosenberg's justly famous article, "American Action Painters," was used every bit the central starting bespeak for any definition of this circuitous movement, applying an existential viewpoint to the human relationship between creative person and canvas.1 I have already suggested in a previous article that there was an culling way of viewing the works of Guston, Pollock, and the other Action Painters.2 Now that Minimal Art has taken its place in the forefront of the art globe it seems a proper time to look again at the Activeness Painters and review only what their position was in relationship to the development of art in this century, both to previous and subsequent art.
-
Michele Dantini
This engrossing volume takes us on a fascinating visual journey through the most groundbreaking and avant-garde art of the early 20th century to the present. Stunning, loftier-quality photographs of major artworks back-trail illuminating discussions of the masters of modern and gimmicky painting, sculpture, architecture and conceptual art. Here are giants of invention such as Picasso and Matisse, the German expressionists, Dadaists, constructivists, surrealists, abstract expressionists, minimalists, popular artists and todays cut-edge creators. Theyre all advisedly placed in cultural context, with ideas, movements, events, artists and works beautifully examined. Scholars, art aficionados, students, gallery owners and art historians will all detect this mainstream, attainable guide appealing.
‗Signs Taken for Wonders' in Abstract Fine art in the Late Twentieth Century
- H Foster
Foster, H. (2002) ‗Signs Taken for Wonders' in Abstract Art in the Tardily Twentieth Century, ed. F. Colpitt, Cambridge University Press, New York.
Concerning the Spiritual in Art
- Wassily Kandinsky
Kandinsky, Wassily. Concerning the Spiritual in Art. New York: Dover Publications, 1977. Print.
A Concise History of Mod Painting
- A Moszynska
- Hudson Ltd
Moszynska, A. (2004) Abstract Art, London, Thames and Hudson Ltd. Read, H. (2006) A Concise History of Mod Painting. London, Thames and Hudson Ltd.
The Mod State Of Existence: Mystical Spirituality In Twentieth Century American Advanced Painting (Thesis)
- Rebecca A Young
Young, Rebecca A. The Modern State Of Being: Mystical Spirituality In Twentieth Century American Avant-Garde Painting (Thesis), Kinesthesia of Baylor University, Waco, Texas 2014. Jurnal :
Revisiting the Spiritual in Art
- D Kuspit
Kuspit,D.(2004) "Revisiting the Spiritual in Art", availableat: http://www.bsu. e d u / due west e b / j f i 50 l w a l k / B r eastward d e r Chiliad u south p i t / RevisitingSpiritual.html. Accessed 28/ September/2018
Source: https://www.researchgate.net/publication/343476968_DIMENSI_SPIRITUAL_DALAM_SENI_LUKIS_ABSTRAK_KONTEMPORER_INDONESIA_SEJARAH_DAN_WACANA
0 Response to "Review of Modern and Contemporary Art by Michele Dantini"
Postar um comentário